Di akhir semester, buku absensi biru tua itu sudah diganti dengan yang baru. Tapi halaman terakhir buku lama, yang berisi nama Jasmine sepanjang dua bulan terakhir, masih disimpan Bu Ratna di laci mejanya. Di samping setiap tanggal, ada titik-titik kecil yang baginya berarti:
Jasmine bukan siswa yang malas. Sejak kelas X, ia dikenal sebagai anak yang paling cepat datang, bahkan sebelum petugas kebersihan selesai menyapu. Tapi sejak ayahnya dirawat di rumah sakit karena stroke, semuanya berubah. Jasmine mulai sering terlambat. Kadang tidak masuk sama sekali. absensi jasmine
Berikut adalah sebuah cerita pendek dengan tema : Absensi Jasmine Di akhir semester, buku absensi biru tua itu
Bu Ratna menghela napas panjang. Ia menuliskan keterangan “S” (Sakit—keterangan untuk keluarga) dengan agak menekan. Di dalam hati, ia khawatir. Bukan hanya soal nilai, tapi tentang beban yang dipikul gadis seusia Jasmine. Sejak kelas X, ia dikenal sebagai anak yang
“Ibu, Jasmine tadi sempat chat,” kata Sarah, teman sebangkunya. “Katanya ayahnya masuk UGD lagi.”
Hari Selasa, Jasmine hadir. Rambutnya diikat sedikit acak, matanya sembab. Ia tersenyum tipis saat Bu Ratna menyebut namanya. “Hadir, Bu,” katanya lirih.
Dan setiap kali ada kertas bertuliskan atau “takut kehilangan” dengan tulisan miring khas Jasmine, Bu Ratna akan mengangguk kecil, lalu di buku absensi, di samping nama Jasmine, ia menuliskan bukan hanya “H” atau “I” atau “S”, tapi sebuah titik kecil—tanda bahwa ia melihat, ia memahami, dan ia hadir untuk Jasmine, lebih dari sekadar angka kehadiran.